Bulan yang melelahkan
Curhat yaa. Bulan yang melelahkan. Tiga kata itu menggambarkan situasi yang saya alami selama kira-kira satu setengah bulan ini. Terlalu banyak kegiatan membuat tenaga dan pikiran terkuras. Hutang-hutang janji terkadang saya putuskan sepihak hanya karena jadwal yang terbentur. Sehingga terjadilah ketidakmapanan sikap dan pikiran yang berbuah pahit. Timbul virus berbahaya yang menjangkit, yaitu males baca dan nulis.
Males baca
Virus tersebut terus menjalar tanpa mengasihani saya, tumpukan buku yang semula saya tarik dari tempat persembunyiannya agaknya kurang berkenan apabila hanya tergeletak di atas tempat tidur tanpa saya serap sarinya. Bahkan sepuluh buku yang saya beli kisaran dua bulan ini pun belum ada satu pun yang khatam. Aaarggh. Sebel sebel sebel.
Males nulis
Menulis juga terhenti sama sekali sejak artikel saya bulan lalu terbit di Republika (ehm, ceritanya pamer). Seakan tidak ada rangkaian huruf yang berkelindan merajut kata-kata yang termaktub pada suatu ulasan paragraf. Membuka kompi pun hanya saat gratisan brosing-brosing.
Males belajar
Ini adalah perpanjangan tangan dari males baca dan males nulis, yaitu males belajar. Kegiatan perkuliahan juga agaknya kurang saya cermati. Pernah suatu kali saat dosen mata pelajaran Fisika Statistik menerangkan suatu materi mengenai diskrit kuantum, saya yang sedari awal berada di dalam kelas tidak sedikit pun memperhatikan. Pikiran saya menerawang memikirkan kegiatan-kegiatan di luar. Di akhir perkuliahan dosen tersebut memberikan latihan yang harus dikumpulkan saat itu juga. Spontan saya kelojotan, otak saya berkelindan dengan keras, berusaha memutar ulang cernaan materi tersebut pada kotak penyimpanan. Rasanya ingin menangis, ya Allah.
Bahkan yang terparah adalah momen UTS lalu. Kejadian yang membuat seakan ubun-ubun saya akan pecah. Saat itu saya baru mengetahui bahwa UTS Elektronika 2 sehari sebelum dilaksanakan. Alhasil nggak tau deh berapa nilainya. What a ridiculous thing! Gue benciiii. Alangkah sulitnya mengatur waktu.
Kegiatan yang menumpuk membuat hal-hal yang justru penting malah terlupakan, namun malah terfokus pada kegiatan yang sebenarnya bisa ditunda.
Sebab lalu Akibat?
Sering berpikir, apa sih penyebab saya tidak bisa mengatur waktu dengan efisien? Apa karena seorang sanguinis tidak cakap dalam mengatur hal yang detail, lebih suka sesuatu yang spontan tanpa perencanaan terlebih dahulu lalu gampang bosan pada hal yang monoton dan tidak fokus?
Setelah saya analisis sembari mengernyitkan alis dan melipat kedua lengan di dada, ada satu faktor penyebab yang rupanya sering menjangkiti inangnya. Apa lagi kalau bukan ‘MALAS’. Virus berbahaya yang terkadang tidak nampak namun lambat laun dapat menghancurkan masa depan. Seorang karyawan dapat di-PHK karena malas, mahasiswa dapat di-DO karena malas kuliah, seseorang dapat jatuh miskin karena malas.
Penyebab malas baca dan nulis.
Malas baca dan nulis muncul ketika kita sudah terlampau lelah dengan beragam aktivitas, sehingga pikiran sudah terlampau asing dengan suatu yang detail. Atau malahan bisa timbul di saat tidak ada satu pun aktivitas yang dilakukan. Di saat tenaga telah terkuras seharian, otak menjadi malas meletupkan ide, yang ada hanya ingin tidur terlentang sambil melepas penat, atau mendendangkan ayat-ayat Allah.
Ngg, udahan ah nulisnya, saya lagi males nulis, hehe.
Amalia Larasati Oetomo
Ciputat, 20 Mei 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar