Selasa, 07 Juni 2011

Pemerintahan Mahasiswa Hampir Tenggelam



Terjerembab oleh keegoisan kekuatan superior masa orde baru, cukup membekukan letupan paradigma para pelopor muda (baca: mahasiswa) dalam menelurkan gagasan yang mendobrak keterpurukan bangsa. Kedaulatan mahasiswa menjadi terkungkung serta menyempitkan paradigma idealis yang mencoba menyeruak keluar. Kisah lama tersebut merefleksikan realita betapa kelamnya sejarah kedaulatan mahasiswa pada wilayah yang bernama kebisuan.

Meskipun dewasa ini telah jarang terlihat diskriminasi orasi, namun ternyata acap tampak pada pengekangan hak yang terkodifikasi penguasa (baca: rektorat) dalam meredam buncahan pemberontakan. Bahkan pada kampus tanpa kedaulatan mahasiswa, rezim kapitalisme transnasional (melalui tangan negara) berusaha mengakademik dan mendepolitisir mahasiswanya. Gerakan ekstra universiter ideologis diusir dan eksistensi dimatikan. Padahal kampus adalah penelur handal para mahasiswa yang bermilitansi dan berintelektual tingkat tinggi. 

Merujuk pada kampus peradaban (baca: UIN Syarif Hidayatullah) yang masih menjunjung tinggi hak pemikiran penghuni universeter, kedaulatan yang bernama legislatif itu masih utuh berdiri tanpa ketimpangan. Legislatif memungsikan diri sebagai badan perwakilan, berisikan wakil mahasiswa yang beranggotakan para penyerap dan penyalur aspirasi masyarakat kampus. Dapat disayangkan masa jaya mahasiswa hanya akan menjadi sejarah tak terulang apabila legitimasi mahasiswa dikonversi menjadi senat.

Senat adalah badan normatif tertinggi dan sekaligus merupakan badan perwakilan dosen pada tingkat universitas. Tapi perlu kita ingat, kita juga memiliki badan tertinggi perwakilan mahasiswa tingkat universitas dan ini juga merupakan bagian dari proses demokrasi kampus yang seharusnya dilibatkan.

Berdasarkan teori dependensia dan teori sistem dunia, konversi tersebut diduga bertujuan demi meretas hambatan dan memperlancar arus kapital nasional ke rezim transnasional (baca: membangun jalan tol kapital). Materialisasi dari upaya itu yakni mendepolitisir mahasiswa dengan mematikan kegiatan ekstra universeter ideoligis. Jika itu terjadi, maka pemotongan proses produksi kader intelektual akan semakin tajam menusuk. Lalu sebenarnya, apa yang menjadi tujuan utama peniadaan demokrasi intelektual tersebut? 

Dua asumsi berdasarkan realita yang mengakar akan disibak. Pertama, terdapat kekhawatiran mendalam pada kemungkinan terjadinya perang ideologi antargerakan-ekstra-universiter yang berujung kekerasan. Kedua, ketidaknyamanan terhadap perilaku oposisi mahasiswa yang terkadang merugikan pihak atas. 

Apabila ternyata sistem baru tersebut jadi direalisasikan, maka keterpurukan ideologis mahasiswa akan terulang lagi laiknya masa orde baru. Pelbagai aturan yang non-pro rakyat universiter akan memasung eksistensi aspirasi yang menerapkan pengakademisian mahasiswa. Maka tak ayal, mahasiswa terforsir oleh kegiatan belajar sampai habis secara fisik dan psikis. Mereka pun minim waktu untuk bergelut dengan organ gerakan mahasiswa. Lalu habislah para pelopor muda satu demi satu tersandung waktu.

Oleh: Amalia Larasati Oetomo
10 Mei 2010


Akibat Penyakit Lupa



blog lamaku

Berawal dari cerita teman-teman mengenai penjahat dunia maya alias hacker yang memangsa korban-korbannya tanpa ampun. Akun mereka diacak-acak, bahkan tampilan akun mereka difitnah sedemikian rupa. Maka dari itu, karena ketakutan yang amat dasyat bakalan di-hack juga, jadilah password kuubah menjadi lebih rumit.

Wahaha, jengjeng. Traraa, akhirnya dan akhirnya hanya dalam selang sebulan, password baruku hilang dalam kotak penyimpanan yang tersimpan rapi dalam otakku. Padahal telah aku cari ke setiap sudut bagian penyimpanan, kubuka pintu setiap laci dan lemari, namun tetap saja rangkaian huruf dan angka tersebut tidak kutemukan

Lalu, dengan sangat terpaksa, aku harus membuat blog baru. Padahal virus 'malas' masih menjalar di ubun-ubun kepalaku, hiks.

Akhirnyaa, aku mencoba membuat blog baru di tempat lama (blogger).

Namun lagi-lagi make 'tapi', halooo, loading-nya lama ya. Beuh.

Dengan (lagi-lagi) dengan sangat terpaksa, aku membuat blog di akun ini, padahal kan aku nggak tau caranya.

Tapi dengan ijin Allah SWT, akhirnya jadi juga blog ini. Horree

Alhamdulillah ya Rabb
Semoga blog ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membukanya (semoga juga dibaca ya).
Amiin ya Rabb

Menata Emosi


Dalam sebuah peperangan, suatu ketika Khalifah Ali ra berhasil membuat salah satu musuh terjengkang. Saat itu beliau sudah siap menghunus pedangnya untuk memenggal musuhnya. Namun, tiba-tiba sang musuh meludahi wajah Ali ra. Tanpa disangka, beliau tidak jadi membunuh musuh itu, dan pergi begitu saja. Sang musuh menjadi heran dan bertanya-tanya, "Wahai Ali, mengapa engkau tidak membunuhku?" Ali kemudian menjawab, "Aku takut membunuhmu bukan karena Allah, melainkan karena ludahmu yang membuatku marah."

Subhanallah, dengan segala kuasa-Nya, Ali ra memutuskan mengelola emosi negatif dengan berpikir jernih mengenai sebab dan akibat timbulnya rasa marah yang membara.

Menurut penulis buku Psychology of Adjustment, Eastwood Atwater, mengartikan emosi sebagai suatu kondisi kesadaran yang kompleks, mencakup sensasi di dalam diri dan ekspresi ke luar yang memiliki kekuatan memotivasi untuk bertindak.  Emosi terdiri atas emosi positif dan emosi negatif. Gembira, heran, dan takjub adalah bagian dari emosi positif. Sedangkan marah, benci, ngeri, sedih adalah bagian dari emosi negatif.

Emosi negatif kadang kala menyergap di saat amarah tak tertahan meliputi dengan ganas. Bila hawa amarah telanjur menguasai, maka bersiaplah menghadapi kehancuran diri. Nafsu amarah yang tak terkendali dapat membutakan segala perilaku menjadi di luar ambang batas kenormalan. Sehingga, yang tampak adalah sisi lain kepribadian yang bisa saja menjatuhkan kredibilitas dan martabat seseorang.

Tidak sedikit para petinggi negara jatuh seketika akibat kelalaiannya dalam menata emosi. Bahkan, banyak pula para tokoh budiman yang awalnya disegani menjadi dibenci karena sering lupa menata emosi. Setelah terpuruk, baru menyesal atas segala peristiwa yang telah terjadi.

Padahal, Allah SWT memberikan jaminan yang baik di surga bagi orang yang dapat mengendalikan amarah. Rasulullah SAW bersabda, “Ada tiga hal yang jika seseorang melakukannya, Allah akan menempatkannya di dalam naungan-Nya, mencurahkan rahmat-Nya, dan memasukkannya ke dalam surga-Nya, yaitu jika diberi rezeki ia bersyukur, jika mampu membalas, ia bisa memberi maaf dan jika marah ia bisa menahannya.”

“Tidaklah seorang hamba menahan kemarahan karena Allah SWT kecuali akan memenuhi baginya keamanan dan keimanan.” (HR Abu Dawud dengan sanad Hasan).

Amarah adalah salah satu emosi negatif yang perlu diwaspadai, maka dibutuhkan pengendalian diri agar emosi dapat dikelola dengan baik sehingga amarah tidak menjalar merasuki.

Emosi yang tidak terkendali adalah media ampuh bagi setan untuk mengendalikan manusia. Sesungguhnya marah digerakkan oleh setan yang terbuat dari api dan api dipadamkan oleh air. Siapa pun yang sedang marah, segera berwudhu. Wallahu a'lam bishshawab.

Amalia Larasati Oetomo


Telah dimuat di kolom Hikmah Republika 13 April 2011
http://koran.republika.co.id/koran/0/133034/Menata_Emosi

Mahasiswa dan Politik Kampus

*Saya bukanlah salah satu pelakon politik, tidak juga pro atau pun kontra. Hanya mahasiswa biasa sekaligus  pengamat yang terkadang iseng berkomentar.



Politik layaknya air kopi, pahit namun nikmat dan diramu dengan kemahiran demi mencapai kemakmuran. Dimulai dari seluk beluk kepahitan, kebebasan dikekang, tanpa bisa berkoar menyuarakan keadilan. Nampaknya keadaan tersebut sesuai dengan kondisi mahasiswa Orde Baru yang seakan vakum dari keeksisannya dalam kegiatan oposisi. Kritikan terhadap pemerintah mengenai strategi pembangunan dan kepemimpinan nasional pada tahun 1977-1978 menjadi pemicu penyerbuan dan pendudukan militer terhadap kampus-kampus perguruan tinggi Indonesia

Praktek restruktuisasi politik menjadi langkah yang ditempuh bapak pembangunan dengan menghapus Dewan Mahasiswa (DM) dan mengeluarkan SK Kopkamtib No Skep 02/kopkam/1978 dan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No 0156/U/1978 tentang Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) demi membungkam kebebasan mahasiswa yang bergerak mengikuti nalar intelektualitasnya. Namun puncaknya, pada tahun 1998, persatuan mahasiswa berhasil menggulingkan rezim Orde Baru dengan libasan bertubi tanpa ampun. Raga dan ruh perjuangan menyatu demi keadilan yang sesungguhnya. Sehingga era reformasi telah digenggam dengan mulus. Sejak saat itu, mahasiswa semakin menunjukkan taringnya yang mencabik segala keputusan pemerintah yang merugikan.
               
Mahasiswa acapkali dianalogikan sebagai agent of change, yaitu kumpulan pemuda pencetus perubahan yang seringkali bertindak oposisi terhadap rezim yang berkuasa. Pemilik paradigma idealis yang berpikir demi pengabdian dalam masyarakat, itulah mahasiswa. Mahasiswa juga dianggap sebagai pelopor runtuhnya kekuasaan perenggut kebebasan. Sehingga banyak kalangan yang menganggap bahwa mahasiswa merupakan ancaman terhadap suatu golongan. Maka dibutuhkan pemikiran cerdas dan pengawasan dalam melakukan suatu tindakan. Mahasiswa harus tetap berpikir idealis, tanpa dipengaruhi kepentingan politik nasional tertentu.

Lalu bagaimana dengan politik kampus? Apakah ternoda layaknya dunia perpolitikan nasional? Hakikatnya, mahasiswa dan politik terpatri bagai benang kusut, sulit dipisahkan, namun tidak seratus persen menyatu. Secara tidak langsung kehidupan politik nasional membawa pengaruh besar pada kancah perpolitikan kampus. Kepemerintahan nasional acapkali sama dengan sistem kepemerintahan kampus. Sebab itu, mahasiswa selaku aktivis diharapkan menjadi pelopor perubahan yang berperan dalam pengawasan, pengabdian, serta menyuguhkan perilaku positif demi kelangsungan sistem kemasyarakatan kampus.

Peran mahasiswa sebagai pengawas berbagai kebijakan pemerintah dapat direalisasikan dengan cara pembentukkan organisasi atau aliansi yang berperan aktif dalam mengawasi dan menakar ada tidaknya keputusan yang bersifat merugikan rakyat. Oleh karena itu harapan besar membuncah tinggi pada setiap individu terhadap sepak terjang mahasiswa dalam mengusung perubahan yang lebih baik.

Namun bila kita amati, tidak semua penghuni kampus berinisiatif mendalangi lakon politik dengan memasuki salah satu partai, dan bermain adegan di sana. Terdapat mahasiswa praktisi intelektual akademisi yang berpola pikir anti politik dan anti aliansi. Padahal suatu kegiatan politik atau aliansi pun diperlukan dalam mengembangkan kecerdasan pemikiran serta menjaring sebanyaknya ilmu yang tidak didapatkan pada forum perkuliahan. Sikap apatis mereka cenderung mengaliensi diri dari hiruk pikuk hegemoni, memandang sambil mengernyitkan dahi terhadap apa itu tindakan oposisi.

Bila kita maknai lebih dalam, kontribusi kita terhadap kancah perpolitikan sebenarnya diperlukan dalam menempatkan diri terhadap kehidupan sesungguhnya. Seorang individu tidak hanya dapat dikatakan sukses apabila dia hanya mendapatkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tinggi, namun juga kepiawaian olah diri dalam membawakan kepribadian yang dapat membaur pada lingkungan sekitar juga dinilai penting.

Seluk beluk perpolitikan dalam ranah kampus memang belum dipahami secara merata oleh mayoritas mahasiswa, padahal kampus merupakan pusat intelektualitas, tempat pengembangan ranah pemikiran dan tindakan. Tidak hanya berharap IPK tinggi, namun dapat pula berkontribusi dan ikut andil terhadap pemecahan masalah di negeri ini.

Lalu, apa pula yang menyebabkan mahasiswa cenderung apatis terhadap kegiatan baik perpolitikan maupun organisasi? Terdapat dua asumsi yang dinilai menjadi tembok besar penghalang mahasiswa untuk aktif di ranah kampus. Pertama, takut akan suatu hal yang baru. Lingkungan universitas kadang membuat tercengang bagi mata yang baru melihatnya. Bila dahulu hanya berada dalam lingkup sekolah, kini dibuat heran dan ternganga dengan banyaknya organisasi hingga adanya sistem perpolitikan yang merupakan duplikat politik nasional. Di sini selayaknya kita sebagai mahasiswa selayaknya memiliki keingintahuan tinggi terhadap suatu organisasi kampus, tidak apatis dan harus berani mencoba.

Kedua, paradigma IPK besar tanda kesuksesan. Sebagian mahasiswa cenderung berlomba demi meraih prestasi di atas bangku perkuliahan dengan harapan dapat memetik kesuksesan. Mereka berasumsi akan mudah menduduki jabatan pada pekerjaan apabila mengantongi IPK tinggi. Namun alangkah baiknya bila di samping itu, terdapat pula kontribusi dan keaktifan di sela aktifitas perkuliahan. Tidak sedikit para aktifis kampus yang dengan mudah mengenyam kesuksesan, dan banyak pula para pemilik IPK tinggi yang terpuruk akibat menganggur.

Mahasiswa sebagai agent of change selayaknya tidak menjadi mahasiswa yang apatis, mencari ilmu tidak hanya terpaku pada petuah dosen dan IPK tinggi. Carilah ilmu layaknya orang yang kehausan di padang pasir, ketika terlihat air, ditelan habis sampai ke sumbernya.

Oleh: Amalia Larasati Oetomo
07 maret 2011

Telah dimuat di buletin Parliament News DPM UIN edisi kedua, maret 2011.

Menulis




Menulis adalah cerminan jiwa, goresan frase, kotak sampah bagi ide, pungutan paradigma, lembaran asumsi, teman baik para pemikir. Namun terkadang menusuk dari belakang, menyerang batin hingga nelangsa, nampak oportunis, rentenir bagi ide yang dihisap habis sampai kopong.

Menulis menumbuhkan semangat hidup, semangat berburu ilmu, semangat mencari ide baru, semangat menelurkan karya, semangat berkorban, semangat menjunjung tinggi asas kepenulisan. 

Menulis membutuhkan asupan gizi agar tidak kering lalu mati. Maka dibutuhkan vitamin-vitamin terbaik seperti vitamin ilmu, vitamin pengalaman, vitamin kepribadian, vitamin persahabatan, vitamin cinta. Berbagai asupan vitamin dikumpulkan, lalu dicerna sebelum dan sesudah menuangkan ide ke dalam baskom berisikan larutan kepercayaandiri.

Menulis menyejukkan amarah yang meradang, pelampiasan ego, pelopor hak asasi tertinggal, pemupuk bibit kesuksesan, guru bagi sang pembelajar, murid bagi yang dituakan, layaknya komite yang bebas menentukan aturan suatu instansi.

Menulis meninggalkan dampak psikologis bagi pembacanya, mengubah prinsip menahun, membuatnya terpaku terpana hingga terjatuh dari fatamorgana imajinasi klasik yang rumit. Mengira-ngira kebenaran yang selama ini didepak, meraba-raba kemutlakan yang selama ini ditolak. 

Menulis merubah haluan, merubah kenyataan, merubah tujuan, merubah keniscayaan.

*Jadilah penulis yang senantiasa menulis apa yang akan ditulis melalui serangkaian khayalan tentang menulis demi menciptakan korelasi perubahan dengan tulisan.

Ciputat
4 april 2011
Amalia Larasati Oetomo

Raja Pohon



240211
Oleh: Amalia Larasati Oetomo       


Akulah si raja pohon. Salah satu penghuni ajek di antara ribuan penghuni ajek lain. Pohon penguasa hutan belantara. Hutan tempat kuasaku terletak di suatu bagian entah di mana. Yang jelas tak pernah sekali pun aku tinggalkan sejak pertama kali aku menatap surya. Saat itu aku hanya sebuah dahan kecil. Lemah dan rapuh. Daunku saja hanya segelintir yang nampak.

Ukuran kecil menjadikanku incaran para penghuni vegetarian. Banyak teman pohon menjadi korban, baru sedetik menggeliat keluar dari tanah, seketika terkunyah menjadi santapan sang perut lapar. Walau begitu, tidak pernah mereka berhasil menangkapku sampai akar. Hanya sebagian daun meski menyakitkan.

Perlahan aku paham, kami, para pohon, dapat tumbuh subur dari suatu gumpalan kotoran yang mereka sematkan di sekitar akar kami. Mereka pun hidup dari asupan dahan kami. Saling menguntungkan. Walau kadang kami ketakutan setengah mati ketika penghuni bergerak berlari kencang, takut tertabrak, terinjak, dan akhirnya mati. Tapi lagi-lagi aku beruntung. Pernah sekali saja aku tertabrak, tidak sampai mati. Saat itu sulit untuk menegakkan tubuh yang sudah patah ini, tapi dengan tekad membara aku bercita untuk hidup lama, menjadi penguasa hutan belantara. Penguasa pecinta kelipan di malam yang menyapa.

            Kelipan. Dimulai saat pertama kali aku menatap malam, ribuan titik berkelip menepuk padnangan. Tiba-tiba keinginan besar merasuk dalam xilem dan floemku, menyeruak dari akar sampai ujung daun. Ingin aku menyentuh ribuan kelipan di langit. Berharap dapat loncat tinggi mencapai salah satu dari kelipan. Aku mendongak, menatap sang kelipan tanpa beralih ke pandangan lain. Rasanya aku jatuh cinta, cinta akan kelipan yang berkedip ke arahku, cinta akan kelipan yang terkadang jatuh entah ke mana. Ingin ku tangkap kelipan yang jatuh itu. Lagi-lagi tersadar, aku hanya sebuah dahan kurus kecil antara rimbunan raksasa sekitar.

Pernah aku bertanya pada awan, “Hai awan, kau sering melanglang buana mengitari dunia, pernah kah kau bertemu dengan kelipan?”

“Kelipan? Apa itu wahai dahan kecil? ” jawab awan bingung.

“Apakah kau tidak tahu apa itu kelipan?” “Benda kecil terang menyala di malam hari. Itulah kelipan”

“Oh, apakah maksudmu bintang di langit, dahan kecil?”

“Bintang? Nama macam apa itu?”

“Manusia menamakannya bintang, yang kau maksud dengan kelipan.”

“Manusia? Apa lagi itu, wahai awan?”

“Seperti pernyataanmu tadi, aku sering melanglang buana mengitari dunia. Aku temukan satu jenis penghuni bergerak yang pasti belum pernah kau lihat,” “mereka hampir serupa dengan kera, namun tidak dipenuhi bulu. Berjalan tegak menggunakan dua kaki. Mereka menggunakan suatu lapisan bahan untuk melindungi tubuh.”

“Ada lagi perbedaan yang sangat signifikan dengan para penghuni bergerak di sini. Manusia sangat pintar.”

            Aku pikir telah bertemu dengan setiap jenis penghuni bergerak, ternyata ada satu jenis yang bahkan namanya pun baru kudengar. Manusia. Apakah manusia memakan dahan kami? Ataukah mereka melahap tubuh selain jenis mereka? Manusia itu pintar, kata awan. Mungkin saja mereka tidak membunuh dan merusak alam. Bahkan terpikirkan oleh mereka untuk menutupi diri dengan suatu bahan pelindung tubuh. Hebat sekali menusia itu, pikirku. Tapi, masa bodolah dengan manusia. Yang penting sekarang aku tahu nama lain kelipan. Bintang.

***

Perlahan aku membesar, asupan makanku pun bertambah. Air hujan yang menari-nari turun dari langit dengan lahap kuserap habis. Sinar matahari yang menyapa kuhirup puas bercampur dengan gas yang berganti menjadi gas berbeda favorit para penghuni bergerak. Bersamaan dengan tumbuh besarnya badanku, para penghuni lain pun semakin hormat. Bila dulu aku dianggap si kecil tidak berdaya, diinjak dengan sengaja, tapi sekarang makin sering kudengar sapaan para penghuni. Para burung makin banyak hinggap di dahanku, membuat belasan sarang dengan izinku, berkicau tiada henti menghibur penghuni hutan.

            Para sahabat satu angkatanku mati dalam seleksi hutan, hanya yang kuat sang pemenang. Badai dan petir mencabiknya. Aku adalah pemenang, hahaha. Tak salah bila mereka memanggilku si raja pohon. Raja pohon hutan belantara. Meskipun gelar raja telah kukantongi, tidak berkurang sedikit pun pandanganku terhadap kelipan. Bukan bintang. Aku canggung apabila harus memanggilnya dengan bintang. Ya, cukup dengan kelipan.

Saat ini usiaku sudah sangat tua, kuhitung telah lima ribu kali bulan menampakkan purnamanya. Tentu saja dengan tubuh semakin besar dan kekar dengan akar kuat menopang para penghuni lain semakin tunduk hormat. Dari penghuni pemilik anggota gerak, sampai penghuni yang ajek pada tempat tinggalnya. Namun aku rasakan ada suatu perlahan hilang. Kelipan satu demi satu hilang tanpa pamit. Meninggalkanku sang raja pohon. Bila kelipan salah satu penghuni hutan ini, akan aku hukum dan penjarakan mereka, sembari memandangi  kelipan indah mereka.

            Tanpa sengaja aku bertemu lagi dengan awan, si awan pencerita bintang dan manusia. Mungkin angin badai membawanya nun jauh ke sini.

“Hai, awan. Bertemu lagi kita di sini.” sapaku bersemangat.

Awan mengernyit bingung, atas gerangan apa suatu pohon raksasa menyapanya di langit.
“Siapakah engkau, wahai pohon gagah nan hebat? Apakah kita pernah bertemu?”

“Lupakah kau padaku, awan?” “Aku dahan kecil yang bertanya kelipan padamu.”

“Oh, sungguh, tidak aku sangka kau sehebat ini sekarang. Selama ini aku hanya mendengar kisah sang raja pohon, tapi tidak kutahu bahwa ini engkau, raja.” sahut awan, tidak dia sangka akan bertemu lagi dengan si dahan kecil.

“Tidak perlu kau berkata begitu, awan yang baik hati. Tidak perlu jua kau memanggilku raja, panggil aku dahan, seperti awal bertemu dulu.”

“Baik dahan. Ada apakah gerangan, nampaknya ada pertanyaan yang ingin kau ajukan padaku.” jawab awan tak sabar.

“Aku ingin bertanya tentang kelipan, eh maksudku bintang. Mengapa mereka perlahan hilang?”

Awan terdiam sejenak, seakan tidak sanggup berkisah, “Begini, dahan, apakah kau ingat dengan manusia? Salah satu jenis dari penghuni bergerak. Mereka tidak lagi nampak seperti yang kuceritakan dulu.”

“Apa maksud ucapanmu, awan? Apakah mereka berubah menjadi penghuni ajek sepertiku? Apa pula hubungannya dengan kelipanku?”

“Oh, tidak, bukan berubah seperti itu. Nanti aku ceritakan mengenai kelipanmu.”

“Manusia tidak lagi seperti yang kuceritakan dahulu. Mereka telah berubah, bukan dalam artian fisik, namun perangai. Dalam artian semakin ganas, jauh lebih ganas dari singa hutan. Singa hutan tidak membunuh sesama jenisnya, tapi manusia dengan santai saling membunuh dan merampok. Mereka tidak pernah puas dengan apapun yang mereka miliki. Rakus, licik, dan ganas.”

Aku terdiam, syok mendengar cerita awan. Bukankah yang kudengar dulu mereka makhluk pintar?

“Haha, pasti kau ingin berkata bahwa mereka makhluk yang pintar. Haha. Ya, mereka memang makhluk terpintar di bumi. Sangking pintarnya mereka membuat berbagai macam peralatan bertahan hidup. Mereka membuat rumah, gedung bertingkat, pabrik, hotel,...”

“Halah, sudah sudah. Apa itu rumah, gedung bertingkat, pabrik, dan apa lagi tadi?”

“Hotel.” sahut awan menambahkan.

“Ya, itu tadi hotel dan yang lain itu. Apa itu? Apakah semua itu jenis lain dari penghuni bergerak?”

“Oh, bukan, wahai dahan. Itu adalah sarana pelengkap manusia. Manusia membuatnya dengan cara menggadaikan solidaritas mereka. Mengeruk sebanyak-banyaknya perut bumi demi mendulang kemakmuran. Mereka menggadaikan rasa tanggung jawab mereka terhadap lingkungan. Asal kau tahu saja, wahai pohon, banyak penghuni ajek mati ditebang dan diambil tubuhnya hanya demi lembaran kertas dan menjulangnya tempat tinggal.”

“Apa?!? Akan kuhabisi para manusia itu! Suruh mereka menghadapku, akan kuhukum mereka.”

“Ha ha ha, hanya dengan mimpi kau bisa lakukan itu semua. Bila para penghuni ajek dapat melawan mereka, tidak akan berguguran batang-batang kayu yang akan menyebabkan banjir besar. Kau pasti tidak tahu apa itu banjir. Banjir adalah genangan air berlebih yang menyebabkan para penghuninya mati tenggelam. Itu yang kulihat di sana. Tidak ada lagi penghuni ajek sebesar engkau, wahai Pohon. Mereka bertumbangan mati menjadi papan reklame dan tusuk gigi.”

Tidak aku sangka manusia bisa sebejat itu, emosiku meradang berlipat. Ingin kuhancurkan para manusia itu.

“Lalu bagaimana dengan kelipanku? Apakah mereka diam-diam dipetik manusia untuk dijadikan santapan?”

“Tidak, wahai pohon, kelipanmu tidak hilang, hanya perlahan tertutupi oleh padatnya gas beracun yang menyebar menuju langit. Aku pun kena batunya, gas beracun itu perlahan terbang ke arahku, menyatu dan membuatku berasa asam. Karena itu, di sana aku selalu menumpahkan hujan yang juga berasa asam. Digunakan lagi oleh manusia. Mereka merusak bumi dan menikmati hasil rusakannya.”

Kelipanku, kurang ajar mereka menghalangi para kelipanku masuk ke dalam langit. Akan kubuat perhitungan saat bertemu dengan mereka. Lalu, kira-kira gas apa yang demikian hebatnya menghalangi aku dan kelipan.

“Dari mana gas beracun itu timbul? Mungkin kah manusia mengeluarkannya?” tanyaku sembari menahan amarah, tidak terima atas perlakuan manusia pada kelipanku.

“Manusia menimbulkannya dari suatu benda yang mereka buat untuk menghemat waktu dalam mencapai suatu tujuan. Padahal mereka paham betul dampak perilaku mereka. Banyak dari jenis mereka yang keracunan sampai mati. Anehnya bukannya meredam, malah semakin menjadi.”

“Tahu kah tujuanku mendatangi hutanmu? Awalnya aku berniat untuk berbicara dengan penguasa hutan ini. Tapi karena ternyata sang penguasa adalah teman baikku ini, lebih baik langsung aku katakan padamu.”

“Silakan, wahai awan, apakah yang ingin kau katakan?”

“Dua purnama lalu kudengar mereka berencana ingin datang ke hutanmu ini.”

“Siapa?”

“Siapa lagi. Mereka. Manusia.”

“Tentunya akan kusambut dengan hentakkan akarku.”

“Berusahalah melawan, karena yang aku takutkan adalah nasibmu dan rakyatmu. Aku takut mereka memperlakukanmu layaknya hutan-hutan yang lain. Menghabisimu dan rakyatmu tanpa ampun, demi membangun imajinasi terkutuk mereka.”

Oh, tidak, ini tidak boleh terjadi, tidak ada yang boleh menyakiti rakyatku. Mereka tidak hanya menghalangi aku dan kelipan, mereka akan menghabisi rakyatku!

***

            Aku hanya berbagi cerita dengan kelipan. Menceritakan penderitaan rakyatku akibat ulah sang manusia. Ah, percuma, kelipan tanpa peduli demi satu hilang tanpa jejak. Aku menangis tersedu-sedu, menangisi kelipan yang perlahan habis tanpa bisa kupandangi lagi cantiknya.

Aku tidak ingin mengingatnya lagi. Penghancuran, penyiksaan, penembakkan. Suara desingan dan umpatan. Bukankah mereka makhluk terpintar?

            Penghuni begerak ditembak, disakiti tanpa ampun. Penghuni ajek disiksa, dengan paksa mereka menguliti, memotong, menghabisi sampai akar terdalam. Aku dengar manusia terkekeh setiap kali berhasil mendobrak pertahanan kami.

            Lagi-lagi aku yang tersisa, rupanya tuhan menjabah doaku dahulu saat masih berupa dahan kecil layu. Doa mengharap kekuatan dan umur panjang. Tubuhku semakin besar, namun kulitku tidak segar layaknya dulu. Kulit menghitam akibat gas beracun yang kudengar dari awan. Gas beracun tidak hanya menyerang kulit, daun pun lambat laun menciut meronta minta tolong. Terlalu banyak gas yang harus diubah menjadi oksigen. Gas beracun terakumulasi dalam pembuluh tubuh. Aku telah sakit.

            Udara sekitar semakin semeraut, aura panas membungkus tubuh. Anehnya mereka selalu berlindung di bawah dahan rimbunku. Takut kepanasan katanya. Semakin lama hampir tidak ada penghuni ajek sepertiku. Aku tersiksa akan kesendirian. Gedung menjulang merupakan pemandangan wajar sekarang ini. Lagi-lagi aku tetap menjadi raja pohon. Raja bagi satu-satunya pohon, aku.